Lulus "Distinction" harus mendapatkan nilai diatas 130 pada ujian Royal/ABRSM. Untuk memberikan apresiasi para murid yang mendapatkan predikat ini, Duta Nada mengadakan konser "Distinction Students" pada tanggal 18 November 2010. Para orangtua yang hadir sangat bangga terhadap putra/putri mereka atas prestasi ini. Mereka juga berhak atas penghargaan tertinggi berupa Trophy... Klik untuk melihat foto-foto
Cukup banyak artikel yang membahas mengenai “perkembangan Otak Kiri dan Otak Kanan”, tetapi banyak pembaca yang belum mengetahui apa pengaruh otak kiri dan otak kanan pada cara berpikir.
Otak Kiri bekerja untuk mengatur kemampuan seseorang pada nalar, tulisan, berhitung dan berlogika. Kerusakan pada otak kiri dapat berakibat gangguan ingatan jangka pendek, berbicara dan logika matematika. Maka, untuk mempertahankan otak kiri supaya bekerja dengan baik, kita dapat bermain puzzle, belajar berhitung atau ilmu pasti lainnya.
Otak Kanan mempunyai fungsi berpikir kreatif dan biasanya memberikan kemampuan seseorang untuk berkhayal, mencurahkan emosi, membedakan warna, dan ilmu ruang. Otak kanan mempunyai kemampuan untuk menyimpan memori jangka lama. Maka itu, apabila seseorang kena penyakit stroke atau tumor otak, maka yang akan terganggu adalah kemampuan visual dan emosi. Untuk menjaga ketajaman otak kanan, maka kita perlu mendengarkan atau memainkan musik.
Pelajaran di sekolah formal (TK, SD, SMP dan SMA) umumnya me-aktifasi OTAK KIRI. Bagaimana tidak, lihat saja kurikulum sekolah kita. Pelajaran Matematik atau ilmu pasti mempunyai porsi yang lebih banyak daripada pelajaran lainnya. Belum lagi pelajaran yang harus menghafal, juga merupakan pelajaran yang me-aktifasi berpikir secara logis.
Beberapa sekolah yang cukup bagus di negeri ini, hanya memberikan test Matematika untuk masuk SMP dan SMA. Begitu pentingnya pelajaran Matematik bagi sekolah ini dan mereka yakin bahwa murid yang jago matematik, nalar pikiran mempunyai dasar yang kuat dan akan mudah untuk mempelajari pelajaran IPS (tidak sebaliknya yang mana murid IPS tidak akan bisa belajar ilmu pasti dengan baik).
Dengan pelajaran di sekolah yang lebih me-AKTIFASI OTAK KIRI, ada BAHAYA LATEN yang bisa mengancam, yaitu otak yang kurang seimbang, terutama pada OTAK KANAN. Lemahnya OTAK KANAN menyebabkan anak berbicara kasar dan TIDAK KO_OPERATIF & KREATIF pada cara berpikirnya - dalam hal ini anak TIDAK mempunyai EQ (emotional intelligent). Sebagai sekolah musik yang telah mengajar berbagai macam sifat murid, kami sangat menyayangkan apabila bertemu dengan anak pandai/pintar, tetapi tidak mempunyai perasaan atau sangat kasar sekali dalam berkata.
Banyak orang tua ingin anaknya dapat memainkan alat musik, karena diujung abad 21 ini, hampir 80% generasi mendatang nantinya dapat memainkan salah satu alat musik dengan baik. Bagaimana tidak ? Hampir semua sekolah mempunyai ekskul (ekstrak kurikuler) atau tambahan pelajaran musik.
Tidak dapat dipungkiri, keahlian bermain musik adalah suatu “keahlian” yang penting untuk anak-anak kita pada waktu mereka dewasa. Apabila tidak, mereka bisa tidak PEDE dengan teman-temannya alias kehilangan kepercayaan diri… Maka itu, “BELAJAR MUSIK” adalah kewajiban dari generasi sekarang.
Pertanyaanya adalah apakah hanya cukup belajar musik mengikuti ekskul di sekolah ? Jawabannya adalah “TIDAK”. Hal ini karena ekskul di sekolah hanya memberikan dasar bermain musik dan biasanya untuk ensemble musik (tidak untuk solo). Murid tidak diberikan keahlian bermain musik yang mendalam, atau istilahnya hanya kulitnya saja. Yang penting, anak dapat memainkan beberapa lagu yang sederhana, dan dimainkan ensemble sehingga musik enak didengar.
Bagi orang tua yang mengetahui hal diatas, mereka memasukkan anaknya belajar musik privat yang sering dijumpai sekarang adalah memasukkan anaknya untuk belajar piano privat. Tidak dapat dipungkiri, alat musik piano adalah RAJANYA INSTRUMEN musik. Rentang not instrumen piano paling komplit dari instrument lainnya (6.5 oktaf). Selain itu, apabila anak mempelajari piano sebagai instrumen utama, maka dia akan dengan mudah belajar instrument musik lainnya seperti gitar, biola atau alat tiup.
Masih ada OrangTua murid berpendapat bahwa yang penting anaknya dapat "Main Musik". Maka itu anak harus "Fun" pada proses belajar musiknya. Pendapat ini tidak salah, tetapi apabila ditelaah, tidak 100% benar.
Hampir semua orang dapat "main musik". Sebagai contoh untuk memainkan instrumen gitar, seseorang cukup dalam waktu 15 menit belajar 3 accord (chords) yaitu C, F, G ; dan dia telah dapat main gitar untuk mengiringi orang bernyanyi.
"Main musik" dikategorikan seseorang "pada pokoknya" dapat memainkan instrumen musik tanpa melihat kualitas permainan. Biasanya cukup memainkan lagu yang mudah dan sangat sederhana. Apabila diteliti, teknik penjarian dan interpretasi lagu tidak diperhatikan atau dilakukan. Dengan kata lain, "main musik"= "memainkan instrumen dengan asal bunyi".
"Belajar musik" mempunyai konotasi belajar memainkan instrumen musik dengan benar. Seseorang harus mempelajari duduk dengan posisi yang benar (atau memegang instrumen musik), dapat membaca not balok, mengetahui dinamik lagu (forte/keras atau piano/lembut), mengetahui sejarah musik dan nama komposer, serta mengetahui teori musik.
Kode musik (music code) dapat digunakan untuk mempercepat membaca notasi not balok kepada murid. Cara sederhana ini hanya menggunakan 7abjad; huruf A sampai G.
Brandie Suchevich (guru musik) memberikan cara mudah dan sederhana untuk membantu para guru dan orangtua murid membimbing murid/anak supaya dapat membaca notasi not balok dengan cepat menggunakan kode musik (music code).
Untuk memulainya, anda dapat menggunakan white board berukuran 40x20cm atau kertas kosong A4 dan spidol. Kode musik adalah rangkaian kata dengan menggunakan abjad A-G.
Sebagai contoh, anda membuat kalimat “I have a mom and …..”. Mintalah murid untuk mengisi titik-titik tersebut. Jawabannya adalah tentunya DAD.
Anda juga dapat membuat variasi lebih lanjut. Sebagai contoh kalimat: “I looked at my face in the mirror, F A C E -> atau “I put my book in the bag, B A G.
Setiap kali kami bertemu dengan OrangTua murid, kami sering memberitahu 5 hal penting yang patut diketahui oleh mereka mengenai "Belajar Musik". 5 hal ini patut di-ingat dan dimengerti sehingga orangtua selalu mendukung proses belajar musik anak-anaknya....
- Belajar Musik HARUS DIMULAI dari umur muda (5-6 tahun) Belajar musik harus dimulai dari umur muda, yaitu 5-6 tahun. Apabila tidak, anak anda akan kehilangan momentum! Seperti yang kita ketahui, belajar musik praktek, tidak seperti belajar teori atau pelajaran sekolah. Memainkan alat musik hanya dapat dipelajari dengan baik apabila motorik dan otot tangan anak masih flexible dan dapat dibentuk, dan ini biasanya dimulai dari umur muda (5-6 th). Dari pengalaman kami, anak yang usianya telah melampaui 13 th, akan agak sulit untuk belajar memainkan instrumen dengan baik karena otot dan motorik yang telah terbentuk (kaku). Maka itu, meskipun belajar musik dapat dilakukan juga pada umur dewasa, biasanya performa yang didapat tidak dapat melampaui bagi mereka yang belajar musik dari umur muda.
- Belajar musik TIDAK ADA RELEVANSINYA dengan bakat. Banyak orangtua murid yang bertanya kepada kami apakah mereka harus mendaftarkan anaknya untuk belajar musik, meskipun mereka merasa anaknya tidak mempunyai bakat musik sama sekali. Cara berpikir demikian sangat salah, karena belajar musik adalah proses pembelajaran informal yang sangat penting, terutama memberikan keseimbangan otak kanan dan otak kiri. Pelajaran di sekolah biasanya melatih anak untuk berpikir dengan otak kiri (matematik, hafalan, dsb), dan musik akan menyeimbangkan otak kanan (memainkan musik dengan indah harus menggunakan perasaan - alam otak kanan). Anak dapat menyukai musik tanpa bakat, dan hal ini sudah dibuktikan bahwa dengan latihan yang konsisten dan bimbingan guru yang baik, anak akan dapat memainkan musik dengan baik meski tidak begitu mempunyai bakat. Menyukai dan memberikan apresiasi di musik tidak ada hubungannya dengan bakat!